Pemanggil Air

Cerpen Achmad Taufik BK (Kedaulatan Rakyat, 5 Januari 2020)

Semua ini berawal dari dijual-nya Gunung Batu. Menurut peneliti Gunung Batu itu telah ada jutaan tahun yang lalu. Sedangkan menurut tetua, Gunung Batu adalah tempat para Pemanggil Air bersemayam. Namun kedatangan makhluk Berkepala Otak menghancurkan segalanya. kau pasti akan muntah ketika bertemu Makhluk Berkepala Otak. Sama sepertiku ketika pertama kali bertemu Makhluk berkepala Otak. Seluruh bagian kepalanya benar-benar hanya berisi otak. Otak sebesar kepala. Terbungkus selaput transparan yang menunjukkan isi di dalamnya. Tak ada mata. Tak ada telinga. Tak ada mulut. Tak ada hidung. Hanya leher dan otak sebesar kepala.


Entah darimana makhluk itu berasal kami tak pernah tahu. "Aku akan beli Gunung Batu kalian. Dengan seratus truk pasir besar berisi uang pecahan seratus ribu terisi penuh pada tiap bak penampung," begitu kata Makhluk Berkepala Otak mula-mula. Coba kau bayangkan satu saja truk pasir besar yang bak penampungnya memuat pecahan uang seratus ribu. Kami bengong saja mendengar kata-kata dari kepala otaknya. Dan lebih bengong lagi ketika seratus truk itu benar-benar didatangkan di depan kami.

Seluruh aparat memeriksa keaslian uang. Pengawasan dan keamanan penuh disiagakan. Semua uang asli dan nyata. Kemudian risiko dan kerugian dikalkulasi. Semua orang dipersilahkan berpendapat. Ahli keuangan didatangkan. Ahli-ahli lain didatangkan. Semua beradu pendapat dan tiba-tiba dikagetkan oleh kemunculan Pemanggil Air. "Aku Si Pemanggil Air, Gunung Batu itu rumahku. Tak seorangpun boleh memilikinya selain aku," kata Si Pemanggil Air lantang. Selama ini tak pernah ada yang benar-benar tahu seperti apa wujud Si Pemanggil Air. Semua tertuju pada sosok pria kecil bertongkat kayu jati yang nampak keropos di beberapa bagiannya. Wajahnya seperti petani tua pada umumnya dan rambutnya telah putih bersih.

"Siapa Dia? Mengaku-ngaku Si Pemanggil Air. Si Pemanggil Air itu hanya sosok dari cerita khayal yang tak pernah ada. itu hanya mitos. jangan tolol, saudaraku! Jangan mau dibodohi!" teriak seorang minta diperhatikan.

"Ya...! Siapa kau penipu? Pergi atau mati di tangan kami!" teriak seorang lagi menetak.

"Bunuh1 Bunuh...!!!" seru Makhluk Berkepala Otak dengan sengit.

Si Pemanggil Air menunduk sejenak lalu menebarkan pandang pada seluruh mata. iJika kalian jual Gunung Batu, maka kalian tak akan lagi menemukan air di tempat ini. Jika tak ada air maka tak ada kehidupan. Kampung halaman kalian akan lenyap. Suku kalian akan berkurang penduduknya. Dan yang tersisa akan pergi berkelana mencari-cari Pemanggil Air. Kalian tak akan pernah menemukanku lagi, kecualai...i kata Si Pemanggil Air sambil melangkah perlahan ke arah Gunung Batu. Setiap bekas jejak langkahnya memunculkan rerumputan hijau dan udara sejuk berhembur dari arahnya. Setiap bekas tongkat yang disentakkan ke tanah muncul sumber air. Jernih dan sejuk. Bening merembes mengalir hingga membasahi telapak kaki orang-orang. Sementara Si Pemanggil Air telah lenyap ke dalam Gunung batu.

Uang telah berpindah tangan. Dan truk-truk raksasa menebang Gunung Batu. Mengeruk hingga jauh ke dasar.

***

Kau kubawa saat ini ke sebuah tempat yang takkan pernah kau lupakan seumur hidup. Hanya pasir tandus sejauh mata memandang, hingga langit dan pasir bertemu. Jika kau berjalan ke arah utasa lurus terus, maka langkahmu akan menemu laut. Begitupun ke arah sebaliknya, selatan. Juga dibatasi oleh laut. Jika kau berjalan lurus terus jauh  ke arah timur, kau akan bertemu lembah dan jurang yang luas dan dalam. Jika kau lemparkan pandang ke arah dasar jurang, yang kau lihat hanya hitam gelap.

Bahkan cahaya matahari pun tak mampu menyentuh ujung dasarnya. Satu-satunya arah yang bisa dituju adalah ke barat. Semua orang pergi ke arah barat, namun setiap yang pergi ke barat tak pernah kembali. Kau dan aku adalah laki-laki yang tersisa dari suku kita. Salah satu dari kita harus menemukan Si Pemanggil Air.

***

Saya masih diam membisu. Belum juga menemu caranya. Dan yang terngiang adalah "Kecuali... kecuali... kecualai," kata terakhir dari Si Pemanggil Air.

"Ayo! Kita berdiskusi dengan berbusa-busa, sampai habis air mata dan mata air," Katanya.

Klaten, 2017

*) Ahmad Taufik Budi Kusumah S.Pd, guru SDN Kadirejo, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten. Menulis puisi, cerpen, esai, cerita anak, dongeng dan novel. Buku kumpulan puisinya berjudul 'Hati' dan 'Cinta & Konyol'. Dongengnya tergabung bersama penulis lainnya dalam antaloho 'Dongeng Fabel 2019' terbitan sippublishing.

Belum ada Komentar untuk "Pemanggil Air"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel